DERAJAT LATERITISASI DAN PENGAYAAN UNSUR FE-NI-CO PADA BATUAN HARSBURGIT DI PULAU SEBUKU, KALIMANTAN SELATAN

DEGREE OF LATERITIZATION AND ENRICHMENT OF FE-NI-CO ELEMENTS IN HARSBURGITE ROCKS ON SEBUKU ISLAND, SOUTH KALIMANTAN

  • Fasya Zahra Fauziyyah Ramdani Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung
  • Ayumi Hana Putri Ramadhani Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung
  • Andhi Cahyadi PT Sebuku Iron Lateritic Ores
  • Ernowo Badan Riset Inovasi Nasional
  • Wahyu Widodo Badan Riset Inovasi Nasional
Kata Kunci: harsburgit, derajat lateritisasi, limonit, saprolit, Fe-Ni-Co

Abstrak

Iklim tropis di Indonesia menyebabkan tingginya tingkat pelapukan kimiawi atau lateritisasi pada batuan ultrabasa menghasilkan pengayaan unsur-unsur ekonomis diantaranya Fe, Ni dan Co yang terakumulasi pada zona limonit maupun saprolit. Penelitian ini dilakukan di Pulau Sebuku yang didominasi oleh batuan ultrabasa diantaranya adalah harsburgit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh derajat lateritisasi pada zona limonit, saprolit dan batuan asal terhadap pengayaan Fe, Ni dan Co. Sebanyak 95 sampel diambil dari 9 lubang bor dan dianalisis menggunakan XRF untuk mengetahui unsur utama dan unsur ekonomis. Derajat lateritisasi dihitung dari kandungan SiO2 dibagi dengan akumulasi total SiO2, Al2O3 dan Fe2O3 atau S/SAF indeks menggambarkan intensitas dari reaksi kimia. Nilai terendah dari S/SAF indeks menunjukkan derajat lateritisasi yang lebih tinggi. Masing-masing zona limonit, saprolit dan batuan dasar memiliki nilai indeks S/SAF berkisar dari 0,16 s.d. 0,58 (lateritisasi kuat), 0,27 s.d. 0,85 (lateritisasi sedang-kaolinisasi) dan 0,77 s.d. 1,24 (batuan induk). Zona dengan derajat lateritisasi kuat mengandung kadar Fe antara 36% s.d. 51%, Ni 0,80% s.d. 1,38 % dan Co 0,07% s.d. 1,17%. Harsburgit mengandung kadar Fe 4,86% s.d. 7,99%, Ni 0,20% s.d. 1,76% dan Co 0,005% s.d. 0,015%. Derajat lateritisasi di zona limonit lebih tinggi dibandingkan dengan zona saprolit dan batuan dasar harsburgit disebabkan oleh dekomposisi dari mineral silika, pembentukan mineral sekunder pembawa besi dan aluminium oksida-hidroksida. Derajat lateritisasi memiliki hubungan positif dengan pengayaan Fe dan Co, tetapi tidak berkorelasi terhadap pengayaan Ni.

 

##plugins.generic.usageStats.downloads##

##plugins.generic.usageStats.noStats##

Referensi

Aquino, K., Arcilla, C., Schardt, C., & Tupaz, C. (2022). Linking Serpentinization and Weathering of Peridotite: A Study on the Mineralogical and Geochemical Evolution of the Sta. Cruz Nickel Laterite Deposit, Zambales, Philippines. Minerals 2022.

Butt, C. R., & Cluzel, D. (2013). Nickel Laterite Ore Deposits: Weathered Serpentinites. Elements Vol. 9, 123-128.

Marsh, E., Anderson, E., & Gray, F. (2013). Nickel-Cobalt Laterites—A Deposit Model. Chapter H of Mineral Deposit Models for Resource Assessment: Scientific Investigations Report 2010-5070-H.

Neraca Sumber Daya dan Cadangan Mineral dan Batubara Indonesia Tahun 2022. (2022). Bandung: Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara, dan Panas Bumi, Badan Geologi.

Ogura, Y. (1977). Mineralogical Studies on the Occurrence of Nickeliferous Laterite Deposits in the Southwestern Pacific Area. Mining Geology.

Robb, L. (2020). Introduction to Ore-forming Processes. Oxford: John WIley & Sons.

Rollinson, H. R. (2014). Using geochemical data: evaluation, presentation, interpretation. Routledge.

Rustandi, E., Nila, E., Sanyoto, P., & Margono, U. (1995). Peta Geologi Lembar Kotabaru, Kalimantan Selatan Skala 1:250.000. Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.

Strekeisen, A. (1973). Plutonic Rocks: Classification and Nomenclature Recommended by the I.U.G.S. Sub-Commission on the Systematic of Igneous. Rocks, Geo, Times, 18, 26-30.

Taylor, R. M., Mckenzie, R. M., & Norrish, K. (1964). The mineralogy and chemistry of manganese in some Australian soils. Aust. Jour. Soil. Res. 2, 235-248.

Diterbitkan
2024-01-04
Bagian
Buletin Sumber Daya Geologi