GEOLOGI DAN UBAHAN HIDROTERMAL SUMUR DANGKAL SWW-2 LAPANGAN PANAS BUMI SUWAWA, BONEBOLANGO - GORONTALO

  • Fredi Nanlohi Pusat Sumber Daya Geologi

Abstract

Stratigrafi sumur SWW-2 tersusun oleh endapan aluvial (0-50 m), endapan piroklastika (50-57,5 m) dan andesit terubah (57,5 – 250 m). Gejala struktur sesar ditemukan pada kedalaman 140-145 m dan 200-210 m dicirikan oleh adanya zona hancuran dan milonitisasi. Ubahan hidrotermal dengan intensitas kuat hingga sangat kuat mulai terjadi dari kedalaman 57,5 hingga kedalaman 250 m, disebabkan oleh proses argilitisasi, oksidasi, anhidritisasi dengan/tanpa kloritisasi, karbonatisasi, piritisasi, zeolitisasi ilitisasi dan epidotisasi. Pembentukan batuan ubahan sebagai hasil replacement dari mineral utama pada batuan dan matrik/masa dasar batuan, sebagian terbentuk sebagai urat -urat pengisi rekahan pada batuan (vein) dan vug (pengisi rongga pada batuan). Intensitas ubahan lemah hingga sangat kuat (Perbandingan mineral ubahan terhadap total mineral dalam batuan atau SM/TM= 20-85%). Epidot mulai ditemukan pada kedalaman 125 m, kehadirannya sebagai replacement ,
terbentuk pada temperatur 230ºC dan sebagai vein serta vug terbentuk pada temperatur 260-280ºC. Biotit ditemukan dari kedalaman 100-200 m, dapat terbentuk pada 220 ºC hingga lebih dari 325ºC. Pembentukan mineral ubahan temperatur tinggi ini terjadi karena fluida panas bumi naik hingga kedalaman yang dangkal melalui rekahan -rekahan yang terbentuk oleh pergerakan sesar normal Lombongo dan Duano. Telah terjadi penurunan temperatur reservoir sejak pembentukan mineral temperatur tinggi tersebut disbanding dengan
kondisi temperature aktual sumur saat ini. Batuan dari kedalaman 0 – 57,5 m belum mengalami ubahan hidrotermal sampai terubah lemah bersifat sebagai lapisan penutup atau overburden. Dari kedalaman 57,5 – 90 m merupakan andesit terubah dengan tipe ubahan argilik berfungsi sebagai batuan penudung (cap rock/clay cap). Batuan dari kedalaman 90 – 125 m adalah andesit terubah dengan tipe ubahan phyllic merupakan zona transisi dan batuan dari kedalaman 125 – 250 m adalah batuan andesit terubah dengan tipe ubahan propylitic sebagai zona reservoir, dicirikan oleh kehadiran mineral epidot, zeolit, klorit, kuarsa dan mineral lainnya.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Browne, P.R.L. and Ellis, AJ. 1970 : The Ohaki Broadlands Hydrothermal Area, New Zealand; Mineralogy and Associated Geochemistry , American Journal of Science 269: 97 – 131 p

Browne, P.R.L., 1970 : Hydrothermal Alteration as an aid in

investigating Geothermal fields. Geoth. Special issue

--------, 1993 : Hydrothermal Alteration and Geothermal System, Lecture of geothermal student, University of Auckland, NZ

--------, 1994 : An introduction to Hydrothermal Alteration, Geothermal System and Technology Course, 15 Augustus – 2 Sept 1994, Pertamina in Cooperation with Uniservices of University of Auckland and Yayasan Patra Cendekia, Cirebon, Jawa barat

Lawless, J.V., White, B.J. and Bogie, I., 1994 : Important Hydrothermal Minerals and Their Significance. 1-30 p, Kingston Morrison, Fifth edition.

Tim Pengeboran Suwawa, 2006 : Laporan pengeboran sumur landaian suhu SWW-1 lapangan panas bumi Suwawa, Kabupaten Bonebolango, Gorontalo. Laporan PMG, tdk dipubl.

Tim Pengeboran Suwawa, 2006 : Laporan pengeboran sumur landaian suhu SWW-2 lapangan panas bumi Suwawa,Kabupaten Bonebolango, Gorontalo. Laporan PMG, tdk dipubl.

Tim Penyelidikan Terpadu, 2005 : Laporan Penyelidikan Terpadu Geologi, Geokimia dan Geofisika, Daerah Panas Bumi Suwawa, Kabupaten

Bone Bolango, Gorontalo. Laporan Subdit. Panas Bumi, Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral. Tdk dipubl.

Section
Buletin Sumber Daya Geologi